Rabu, 31 Juli 2013

Gadung bikin Limbung

18 Mei 2013, pukul 19.22

Mami mendatangi kamar, dan hanya berkata, "Papi masuk UGD, tadi katanya nggliyer."

DHEG.

Saya langsung lemas, jatung seperti mendobrak-dobrak dinding dada memberi sensasi tidak nyaman, selimut yang melingkar di kaki saya seperti kehilangan kehangatannya, pikiran tidak dapat terkendali--melayang-berlari kesana-kemari. Saya takut sekali.

Singkat cerita saya sudah berada di depan pintu UGD. Pada saat itu, UGD sangat ramai dengan orang-orang, sampai-sampai driver ayah saya tidak diperbolehkan berada di dalam. Saya masuk, dan mendapati dua dosen saya--beliau adalah murid ayah saya--duduk di dalam meja registrasi. Dokter Mulat menuntun saya ke ruangan tempat ayah saya berbaring, "Karena ngga ada tempat jadi di sini dulu, mbak hehehe." Ujar beliau sambil menemani langkah saya.
Ketika saya masuk, seorang dokter jaga sedang melakukan pemeriksaan EKG pada ayah saya. Saya menunggu hingga selesai, dan baru bisa duduk di sebelah ayah saya. He smiled at me and said, "Hi, I'm fine."

"What's wrong?"

"Nothing, cuma tadi agak nggliyer saja. Habis makan gadung kok langsung mual dan nggliyer."

"Tensi-nya berapa?"

"150/90, tapi ndak apa-apa kok, curiga saya karena habis makan gadung tadi. Masih bisa praktik dapat 22 pasien, kok di tengah-tengah nggliyer, ya sudah bubar saja praktiknya."

"Memangnya beli gadung dimana?"

"Di tempat biasanya, dulu makan gadung tidak masalah, lha sekarang malah begini hehehe. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik, setelah muntah-muntah tadi badannya sudah ndak dingin, ndak mual, ndak pusing."

"Yakin sekarang sudah ndak pusing, pi?"

"Sungguh, sekarang jauh lebih baik. Mungkin lemasnya karena habis muntah tadi. Titin tau ndak tadi saya diberi tempe mentah oleh Bu Mulat dan Pak Iswahyudi, baru dapat dua gigitan sudah muntah-muntah. Manjur sekali itu obatnya hehehe."

Lalu (singkat cerita) dokter ayah saya meminta observasi berkala, sehingga ayah saya harus opname malam ini. Dari UGD ke Ayodya lumayan jauh, sehingga harus ditempuh dengan kendaraan roda empat. Oleh pihak rumah sakit sudah disediakan ambulance. Setelah semua siap, ayah saya dibangunkan dan akan diangkat menuju bed untuk dipindahkan ke kamar. Tapi baru diminta bangun, ayah saya langsung berdiri dan berjalan sendiri, dari ruang tempat ayah saya berbaring (di kamar tidur dokter/perawat jaga, karena tidak dapat tempat di UGD) sampai ke mobil ambulance. 

Dokter dan perawat yang melihat sampai kebingungan dan meminta ayah saya untuk tiduran saja di bed yang sudah disediakan. Tapi ayah saya malah tertawa sambil berkata, "Hahaha saya sudah sehat ini tadi diberi tempe mentah...sudah segar hehehe..." Kemudian meuju kursi penumpang mobil ambulance. Residen dan koas (dokter muda) duduk manis di belakang--tempat biasanya pasien berbaring. Saya sendiri geli melihat ayah saya yang seperti itu, sekaligus was-was, karena jalannya cepat seperti biasa. Tapi secara keseluruhan, saya senang. Dengan bisa bercanda dan berjalan seperti itu berarti ayah saya murni keracunan gadung. Alahiyuuuuung~

Well, tentang gadung.
Gadung adalah umbi-umbian yang kurang populer di kalangan anak muda seperti kita (yes masih muda). Nah, menurut Mbak Jum (mbak yang ikut di rumah), kalau pengolahan gadung tidak baik maka bisa membuat orang yang memakannya jadi mual atau sampai muntah, atau bahasa gaulnya keracunan gitu. Setelah saya cari (walau sumber cuma Wikipedia) ternyata benar adanya, mirip dengan apa yang dijelaskan Mbak Jum kepada saya. Jangan-jangan Mbak Jum gaul Wikipedia sekarang. Hmm..

Sedikit pengetahuan baru dari ayah saya; dulu kalau ada yang keracunan gadung, orang tersebut harus menghisap (seperti rokok) pohon gadungnya. Tapi pengetahuan baru juga untuk ayah saya; ternyata jika keracunan gadung, penawarnya dengan memakan tempe mentah. Hasilnya sudah terbukti di ayah saya, setelah muntah-muntah semua gejala hilang, tanpa perlu konsultasi dulu ke Klinik TongFang atau ke Eyang Subur. *kemudian diboikot fans Eyang Subur*

Yah, sekadar berbagi pengetahuan baru dan mengisi waktu karena sampai detik ini saya tidak bisa tidur.
Sekarang ayah saya dirawat di kamar Ayodya. Rencananya sih mau observasi malam ini hingga besok pagi, kalau semua baik, besok sudah boleh beraktivitas. Mohon doanya ya :)

repost from http://agusttitin.wordpress.com

Papi

ada yang kenal sama ayah ku? kalo kalian cuma lihat sepintas, pasti satu hal yang terlintas di benak kalian: "ayahnya Titin serem abis". nah, disinilah kesalahan orang yang suka judging at the first place. hal-hal yang ada di benak kalian akan tersapu bersih setelah kalian baca postingan ku kali ini (semoga tidak terjadi bias karena kesalahpemahaman maupun  kesalahan redaksi, hope so)

Part 1

kejadian ini aku alami dulu waktu masih kecil. papi pulang kerja udah larut. nah, lagi leyeh-leyeh di sofa ruang tengah, tiba-tiba telpon rumah berdering, guess what itu jam berapa? 11 malem. ya wajar lah kalo papi ngerasa keganggu. papi angkatlah itu telponnya.

"halo? hmm...? oh maaf salah sambung". terus ditutup. aku ngga berani tanya soalnya papi kaya capek banget.


baru mau merebahkan badan lagi, telponnya bunyi lagi. aku udah berdiri mau angkat, terus papi nggerakin tangannya nyuruh aku duduk.


"halo? ini siapa ya kok telpon malam-malam?". langsung ditutup telponnya kaya ngga mau denger jawaban dari pertanyaan yang dibuat sendiri, dan kesannya kaya ngasih tau 'men gua capek abis please don't disturb'.


terus papi mau rebahan lagi, telponnya bunyi. aku sih teteup duduk manis soalnya papi kaya ngga ngizinin aku buat ngangkat telponnya.


"halo? mau pesan berapa ambulans? iya? halo? ini kamar mayat, mau dikirim kemana ambulans-nya?" langsung ditutup telponnya dan dicabut kabelnya.


aku cuma bisa nahan napas waktu papi ngelakuin itu, dan dengan santai papi melenggang masuk ke kamar. well, for me that's..........funny? ya maksud ku, kenapa gitu pikirannya "kamar mayat"? -______-



Part 2

well, aku lupa persisnya kapan kejadian ini berlangsung, tapi yang jelas aku masih kecil. waktu itu, mbak Jum (mbak yang jaga rumah) lagi aktif-aktifnya ikutan organisasi PRT yang dinamai Cut Nyak Dien. suatu ketika kawan seperjuangan mbak Jum telpon ke rumah (mengingat jaman dulu ponsel belum begitu banyak digunakan) dan sialnya yang ngangkat telpon papi.

"halo? ya? mau mencari siapa? oh mbak Jum baru ke luar negeri. iya. sama bosnya. ya." pembicaraan selesai. what the heyy? luar negeri?


dan besoknya waktu ada pertemuan Cut Nyak Dien mbak Jum (yang ngga tau apa-apa) dihujani pertanyaan seputar kepergiannya dan dibanjiri permintaan oleh-oleh dari kawan-kawannya. padahal aslinya mbak Jum pulang kampung waktu itu. oh poor mbak Jum..



Part 3

this is totally fresh! baaaaruuuu aja kemaren Sabtu. so like this, pagi itu aku baru diskusi sama papi, lalu telpon berbunyi. aku udah mau ngangkat, papi nggerakin tangannya biar aku duduk dan papi yang jawab telpon itu. aku dengerin suara papi..

"halo? ya? oh ibu baru pergi berenang. ya, ini dari siapa? oh ya, ibu baru berenang. ya".  aku langsung ngakak sejadi-jadinya.


aku : huahahaha papi ih iseng abis itu tadi dari siapa emang?

papi : entah
aku : lho kenapa papi bilang kalo mami berenang?
papi : biar gayeng (seru), besok kalo mami bertemu yang telpon pasti ditanya-tanyain heboh hee hee
aku : huahahaha sumpah papi iseng abis

mau tau aslinya mami kemana? baru on the way ke rumah sodara ku buat berangkat nyekar bersama. dan belakangan diketahui ternyata yang telpon adalah sodara ku yang rumahnya lagi dituju sama mami. begitu sampe di TKP, sodara ku langsung pada sorak soray "huahaha katanya budhe berenang? hahaha"


well, papi orangnya super iseng, jahil dan I love him so damn much 


repost from http://agusttitin.blogspot.com